Tahun Matahari. Begitulah manusia menghitung dari dalam rumahnya, Bumi. Begitu juga diri yang terlibat dalam pusarannya. Hari ini, empat puluh lima kitaran Bumi pada Matahari. Diri hadir di jagad mayapada.

Ilmu pengetahuan membuka mata bahwa jasad ini adalah debu. Serupa butiran yang menempel pada sepatu, butiran yang melayang di udara, butiran yang menempel pada buku. Ilmu pengetahuan ( juga tertera di sebuah kitab yang disucikan ) memberi tahu bahwa diri serupa anai-anai tertiup angin. Melayang mengikuti jalan yang tak terpermanai.

Ketidaktahuan diri meraba jagad, alam semesta. Jagad besar adalah hamparan gemintang. Jagad kecil menukik pada diri sendiri. Membaca kitab-kitab masa lalu, menekuri makna butiran mutiara hikmah. Juga mempelajari setiap langkah. Diri dalam kuasa Sang Maha Agung. Dia tempat datang dan tempat pergi.

Perjalanan sudah lama tertempuh. Banyak hal dilihat, dirasa, dialami, dipelajari. Setelah ini ? Entah apa lagi.

Urip sak dermo ngelampahi. Hidup sekedar menjalani. Tentu bukan begitu saja memaknainya dengan pasrah tanpa berbuat apa-apa. Namun ketika merasa sebagai butiran debu dalam semesta yang agung ini, diri memang tiada daya.

Matur Sembah Nuwun, GUSTI KANG MURBENG DUMADI.

 

1508

URIP SAK DERMO NGELAMPAHI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *