Resensi Novel WUNI oleh SIDIK NUGROHO di RADAR SAMPIT.

 

Minggu lalu, 7 Februari 2016, resensi untuk novel saya, Tewasnya Gagak Hitam, dimuat di Radar Sampit. Kemarin, Hari Valentine, gantian resensi saya yang dimuat. Resensi ini untuk Novel WUNI karya Mas Ersta Andantino. smile emotikon Saya lagi suka meresensi buku-buku horor dan misteri. Kalau ada teman-teman penulis dan penerbit yang mau bukunya diresensi, kontak-kontak saja. smile emotikon

Ini versi paling awal resensi saya sebelum dimuat koran:

***

HARTA WARISAN DAN GENDERUWO
Resensi oleh Sidik Nugroho*)

Judul: Wuni, Sebuah Legenda Tanah Jawa
Penulis: Ersta Andantino
Penerbit: Javanica
Tahun: 2015
Tebal: 332 halaman

Indonesia negeri yang luas; keragaman suku, sejarah, budaya, bahasa, dan cerita-cerita yang ada di tiap daerahnya juga sangat beragam. Bisa dikatakan, di dunia ini Indonesia adalah negeri yang terkaya atau paling beragam dalam hal-hal itu bila melihat bentangan alamnya—banyak pulau, banyak wilayah. Kenyataan itu semestinya melahirkan banyak kreator dari berbagai penjuru negeri yang menggarap karya-karya yang berangkat dari keragaman itu.

Ersta Andantino dalam karyanya berjudul “Wuni, Sebuah Legenda Tanah Jawa” (setelah ini disebut Wuni saja) menyajikan seserpih kisah yang berhubungan dengan genderuwo, jin atau makhluk halus yang akrab di telinga banyak orang Jawa. Di novel Wuni, sosok genderuwo tidak muncul sebagai pusat cerita, hanya dikisahkan sekilas.

Cerita Wuni berawal dari kepulangan Jaka, tokoh utama, ke Klaten dari Bogor atas perintah pamannya bernama Pakde Sunar. Di Bogor, Jaka bekerja bersama rekannya bernama Yudhis membangun studio foto kecil-kecilan sambil menunggu lowongan pegawai negeri sipil dibuka. Kepulangannya ke Klaten berkaitan dengan penyerahan harta warisan dari Mbah Putri Sumi, salah satu istri kakeknya yang bernama Soentoro. Soentoro, sang kakek yang sudah almarhum adalah orang kaya-raya, beristri tiga, semasa hidup memiliki usaha dagang yang sukses dan tanah yang luas.

Kekayaan Soentoro diperoleh dengan bantuan magis genderuwo. Suatu ketika Soentoro menyerahkan Mbah Putri Sumi kawin dengan genderuwo; dari perkawinan itu lahirlah anak—setengah manusia, setengah makhluk gaib—yang hidupnya terjebak di dunia nyata dan alam gaib, tinggal di Alas Ledhok, Gunung Merapi.

Jaka adalah keturunan Soentoro yang diramalkan dan dipercaya akan mampu mengelola kekayaan Soentoro. Sejak lahir, Jaka membawa tanda yang diramalkan Soentoro: memiliki toh (semacam tompel) putih yang berbulu di punggung kirinya. Jaka dipercaya akan memulihkan kekayaan yang diperoleh Soentoro dari hasil berhubungan dengan makhluk gaib.

Jaka juga diramalkan akan mengelola kekayaan itu dengan bijak, sekaligus menjadi ahli waris terbesar: mendapat separo bagian keseluruhan harta warisan. Sosok Jaka menarik, menjadi masuk akal ketika ia ditakdirkan menjadi ahli waris: ayahnya guru yang jujur, tidak gila harta, membesarkan Jaka dalam kesederhanaan. Dengan latar belakang keluarga demikian, serta karakter pribadinya yang “lurus”, Jaka tampil menjadi “penebus” bagi kekelaman masa lalu leluhurnya.

Kepulangan Jaka ke Klaten, ke Desa Wuni, tempat Mbah Putri Sumi tinggal, ternyata memicu reaksi negatif dari keluarga yang iri kepadanya, yakni Paklik Renggo. Reaksi ini diwujudkan dalam berbagai bentuk serangan magis: paku-paku, bola api, atau perubahan cuaca secara mendadak di alam sekitar Jaka. Jaka juga harus berhadapan dengan seorang anak Paklik Renggo yang menculik dan menyembunyikannya saat ia mengurus berkas-berkas untuk peralihan warisan.

Di sinilah Ersta dengan apik membangun ketegangan dalam novelnya: konflik yang harus dihadapi Jaka berasal dari dunia gaib dan dunia nyata. Namun, ia tak sendiri menghadapi semua itu. Ia dibantu Yudhis, kawannya di Bogor yang suatu ketika mampir ke Klaten, dan seorang “utusan” yang misterius. Kehadiran “utusan” misterius yang juga menjadi magnet bagi cerita ini. Ia muncul secara terang-terangan, juga di dalam mimpi Jaka.

Selain itu, Ersta adalah pencerita yang tidak terburu-buru membangun ketegangan magis atau supranatural. Ia membangun narasi dan deskripsi yang memikat perihal tempat-tempat yang menjadi latar dalam cerita ini. Ketegangan magis sebenarnya sudah dimulai sejak bagian awal, saat ada sosok misterius yang duduk di samping Jaka dalam perjalanan di kereta. Namun, dalam perkembangannya, ketegangan itu muncul sedikit demi sedikit karena terpendam oleh dua konflik yang dihadapi Jaka: keluarga yang menentangnya mendapat harta warisan dan dua gadis yang memikat hatinya.

Namun, novel yang dilabeli “a breath-taking true story” ini terkesan kabur kandungan kisah nyatanya. Apakah ini pengalaman seseorang yang dikisahkan kepada Ersta? Atau ada bagian-bagian tertentu saja yang benar-benar terjadi di sini, sementara yang lainnya rekayasa? Atau, yang nyata adalah ketegangan dalam dunia nyata dan magis yang dialami Jaka? Atau, yang nyata adalah perkawinan manusia dengan genderuwo? Sayang, pembaca tidak diberi keterangan apa-apa hingga novel berakhir di bagian Epilog. Hanya ada keterangan di bagian awal bahwa “kesamaan nama orang, tempat, dan yang lain hanya kebetulan semata.”

Novel Wuni dibanjiri istilah, kata, dan dialog berbahasa Jawa (diberi keterangan berbahasa Indonesia di catatan kaki), menjadikannya kental dengan nuansa Jawa. “Wuni”, selain merupakan nama desa, adalah nama pohon. Pohon ini buahnya kecil, mirip kopi, berwarna merah. Di beberapa tempat, pohon itu juga disebut “buni”. Konon, di pohon inilah genderuwo suka tinggal.

Wuni patut disimak hingga akhir. Wuni sudah memenuhi syarat sebagai novel horor yang umumnya menyajikan kejutan-kejutan tak terduga. Di karyanya ini Ersta berhasil membangun sebuah cerita yang khas: horor berpadu dengan cerita atau sosok genderuwo yang dikenal luas oleh masyarakat turun-temurun. (*)

*) Sidik Nugroho adalah penulis dan guru. Novelnya yang baru terbit “Tewasnya Gagak Hitam” (Januari 2016)

dimuat di link ini :

https://www.facebook.com/sidiknugroho/posts/10153898738003349

PEMIMPIN DAN SPIRITUALITAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *