MENDAKI GUNUNG, MENDAKI KESUKSESAN

 

Hidup mencapai kesuksesan itu serupa mendaki gunung. Kau mulanya tergiur pada puncak tinggi di atas awan. Mencapai ranah yang tak semua orang bisa menjangkaunya. Untuk ke sana kau perlu bermacam persiapan. Dari mental, fisik, pengenalan alam dan medan hingga peralatannya. Sejak awal semangat begitu membara karena kesuksesan, puncak gunung tampak di depan mata.

Pejuangan pendakian dimulai dari awal. Bekal harus kau bawa sendiri menapaki jalan setapak. Pertarungan dengan dirimu pun dimulai saat tenaga mulai terkuras dan tersengalnya nafas. Saat itulah semua yang kau rencanakan indah saat awal perjalanan mulai berantakan. Puncak kesuksesan tak tampak lagi di depan mata sementara kau harus meneliti jalur agar tak tersesat. Belum lagi bila kau temui rintangan alam seperti hujan badai yang mendadak datang atau jalur yang mendadak putus di tengah jalan akibat tanah longsor dan sebagainya. Bila kau pendaki pemula, semangat akan cepat runtuh. Karena kau akan berpikir jalan yang tak ada habisnya dan kau semakin asing dengan dunia sekitarmu.

Namun sesungguhnya dari mendaki gunung itu banyak sekali yang kau dapat. Kau akan mengerti akan arti setia kawan. Kau akan mengerti akan kata berbagi. Kau akan mengerti bagaimana menyemangati diri sendiri dan teman perjalanan. Kau akan mengerti bagaimana mengelola dirimu sendiri. Kalau kau peka, sepanjang perjalanan kau akan mendapatkan keindahan yang takkan kau temui bila tak mendaki. Kau akan mensyukuri bahwa tak banyak orang yang dapat menikmati keindahan, pengalaman yang kau alami saat itu.

Puncak, akhirnya, bagi kebanyakan pendaki itu adalah bonus. Bonus di antara kenikmatan-kenikmatan yang kau dapatkan selama perjalanan. Puncak adalah tempat dirimu akan merasa kosong. Karena ketika sampai di sana kau akan merasa semakin kecil di alam semesta ini. Karena Puncak itu adalah hasil perjuangan pendakian-pendakian kecil di dirimu sendiri. Yang telah menemukan keindahan-keindahan selama persiapan dan perjalanan.

Tak mencapai puncak bukan berarti tak sukses. Karena kesuksesan itu adalah berhasilnya menaklukan diri sendiri dan tantangan alam / kehidupan.

 

 

Bogor. 1612

 

EMPAT PULUH ENAM

 

Kata orang hidup itu sebuah perjalanan

Dari satu tempat menuju ke tempat lain

Ya, bagiku juga seperti itu

Dari lupa menuju tidak tahu

 

Usia serupa waktu

Kekal tak berbatas

Yang fana adalah raga

Kelak terurai terbebas

 

Melangkah antara jeri dan takut

Tiada jejak menuju surut

Paradoks perjalanan masa

Dari tiada, ada menuju tiada

 

Menuju…………

 

 

 

1608

GODAAN ITU BERNAMA POPULARITAS

 

Menjadi seniman apapun, tidaklah salah bila mencari popularitas. Karena popularitas itu hampir identik dengan pundi-pundi keuangan atau periuk nasi. Wajar saja mencari penghidupan lewat seni. Tapi seorang seniman biasanya yang paling pertama tidak berangkat dari motivasi itu. Tapi motivasi berkarya untuk menyampaikan hasrat, ide, pandangan akan kehidupan yang sedang berjalan, yang sedang dialaminya, yang ada di depan matanya. Hasrat itu disampaikanlah dengan berbagai media dengan penuh estetika. Seperti tulisan puisi, cerita, novel, atau media kanvas, atau media kayu, logam dan sebagainya.

Kita banyak mengenal seniman terkenal. Mereka yang telah berkarya bertahun-tahun. Bahkan ada yang sepanjang hidupnya. Sepanjang hidupnya ? Ya, sepanjang hidupnya karena seorang seniman seringkali mengangkat pengalaman masa kecilnya. Sepanjang ingatannya. Selain itu karya-karya itu bisa dipastikan sudah melewati pergulatan fisik dan non fisik yang “berdarah-darah”. Karya-karya yang dibangun dari perenungan dan pengalaman hidup. Maka adalah salah bila melihat karya orang yang sudah terkenal tanpa melihat prosesnya. Proses yang telah dia jalan sepanjang hidupnya.

Dalam abad modern ini kelabat dunia nyata dan maya, dunia yang kian samar batasnya, begitu cepat dan menyilaukan.. Setiap orang bisa mencitrakan dirinya sedemikian rupa di dunia maya demi meraih kesuksesan di dunia nyata. Sehingga siapapun dapat melihat menyaksikan bintang-bintang seniman yang terbit, menyala terang. Ada yang usia nyalanya sebentar ada yang cukup panjang.

Dengan begitu mudahnya melihat kesuksesan orang lain, bagi setiap orang ini adalah kesempatan baik untuk meningkatkan kualitas dirinya. Karena mereka bisa mengenal dan belajar langsung dengan idolanya atau sekedar terinspirasi.

Namun ada orang yang ( dengan cerdik ? ) melihat popularitas dan kesuksesan bisa diraih dengan jalan pintas dan cepat. Maka dia akan menghalalkan segala cara untuk mendongkrak popularitas itu. Dia tak melihat lagi bahwa kesuksesan orang lain itu dikerjakan berdasarkan pengalaman dan perenungan. Yang dia lihat hanyalah dirinya sendiri. Egonya. Bahwa dengan popularitas yang meroket dia bisa meraih banyak keuntungan secepatnya. Salah satu yang dia tempuh adalah plagiasi. Kenapa plagiasi ? Karena inilah jaman setiap orang dapat mengunggah karyanya dengan mudah dan langsung dipertontonkan ke dunia maya. Maka dengan mudah karya-karya itu dicari dan dicomotnya.

Tindakan ini sangat menggiurkan bagi semua orang. Karena dengan mudah dilaksanakan. Mengibaratkan operasional komputer, dengan hanya satu dua klik, whola ! Jadilah karyamu.

Namun kembali ke awal. Menjadi seniman apapun, motivasi utamanya adalah mengungkapkan kegelisahan hatinya, perasaannya, pikirannya dalam memandang hidup, pengalaman perjalanan bahkan gocangan batin. Bukan melulu soal popularitas. Maka bagi siapapun yang berniat menjadi seniman, maka mengasah rasa, mengasah pikir, mengasah batin adalah sebuah proses yang harus dilalui. Karena itu akan menjadi karakter yang dibawa hingga ke liang lahat. Bukan dengan satu dua klik lalu, whola ! Jadilah karyamu.

 

Bogor 07/0816

TARAWANGSA

 

Sampurasun

Salam kepada semesta raya

Mantra-mantra diucap

Malam luruh haribaan pertiwi

Lewati waktu lintas batas

Cakrawala

 

Sampurasun

Salam kepada leluhur

Kejayaan di masa lalu

Kejayaan di masa depan

Gemah ripah repeh rapih

Kertaraharja

 

Sampurasun

Alunan nada

Damailah alam

Damailah manusia

Damailah bumi

 

Sampurasun

Menarilah gemulai

Gerak semesta

Gerak kehidupan

 

 

 

1605/06