Menjadi seniman apapun, tidaklah salah bila mencari popularitas. Karena popularitas itu hampir identik dengan pundi-pundi keuangan atau periuk nasi. Wajar saja mencari penghidupan lewat seni. Tapi seorang seniman biasanya yang paling pertama tidak berangkat dari motivasi itu. Tapi motivasi berkarya untuk menyampaikan hasrat, ide, pandangan akan kehidupan yang sedang berjalan, yang sedang dialaminya, yang ada di depan matanya. Hasrat itu disampaikanlah dengan berbagai media dengan penuh estetika. Seperti tulisan puisi, cerita, novel, atau media kanvas, atau media kayu, logam dan sebagainya.

Kita banyak mengenal seniman terkenal. Mereka yang telah berkarya bertahun-tahun. Bahkan ada yang sepanjang hidupnya. Sepanjang hidupnya ? Ya, sepanjang hidupnya karena seorang seniman seringkali mengangkat pengalaman masa kecilnya. Sepanjang ingatannya. Selain itu karya-karya itu bisa dipastikan sudah melewati pergulatan fisik dan non fisik yang “berdarah-darah”. Karya-karya yang dibangun dari perenungan dan pengalaman hidup. Maka adalah salah bila melihat karya orang yang sudah terkenal tanpa melihat prosesnya. Proses yang telah dia jalan sepanjang hidupnya.

Dalam abad modern ini kelabat dunia nyata dan maya, dunia yang kian samar batasnya, begitu cepat dan menyilaukan.. Setiap orang bisa mencitrakan dirinya sedemikian rupa di dunia maya demi meraih kesuksesan di dunia nyata. Sehingga siapapun dapat melihat menyaksikan bintang-bintang seniman yang terbit, menyala terang. Ada yang usia nyalanya sebentar ada yang cukup panjang.

Dengan begitu mudahnya melihat kesuksesan orang lain, bagi setiap orang ini adalah kesempatan baik untuk meningkatkan kualitas dirinya. Karena mereka bisa mengenal dan belajar langsung dengan idolanya atau sekedar terinspirasi.

Namun ada orang yang ( dengan cerdik ? ) melihat popularitas dan kesuksesan bisa diraih dengan jalan pintas dan cepat. Maka dia akan menghalalkan segala cara untuk mendongkrak popularitas itu. Dia tak melihat lagi bahwa kesuksesan orang lain itu dikerjakan berdasarkan pengalaman dan perenungan. Yang dia lihat hanyalah dirinya sendiri. Egonya. Bahwa dengan popularitas yang meroket dia bisa meraih banyak keuntungan secepatnya. Salah satu yang dia tempuh adalah plagiasi. Kenapa plagiasi ? Karena inilah jaman setiap orang dapat mengunggah karyanya dengan mudah dan langsung dipertontonkan ke dunia maya. Maka dengan mudah karya-karya itu dicari dan dicomotnya.

Tindakan ini sangat menggiurkan bagi semua orang. Karena dengan mudah dilaksanakan. Mengibaratkan operasional komputer, dengan hanya satu dua klik, whola ! Jadilah karyamu.

Namun kembali ke awal. Menjadi seniman apapun, motivasi utamanya adalah mengungkapkan kegelisahan hatinya, perasaannya, pikirannya dalam memandang hidup, pengalaman perjalanan bahkan gocangan batin. Bukan melulu soal popularitas. Maka bagi siapapun yang berniat menjadi seniman, maka mengasah rasa, mengasah pikir, mengasah batin adalah sebuah proses yang harus dilalui. Karena itu akan menjadi karakter yang dibawa hingga ke liang lahat. Bukan dengan satu dua klik lalu, whola ! Jadilah karyamu.

 

Bogor 07/0816

GODAAN ITU BERNAMA POPULARITAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *