APAKAH REALITAS ITU

 

Dalam sebuah ungkapan candaan bahasa Jawa, KORAN pernah diplesetkan sebagai singkatan dari kalimat : barang sak KOR dadi sak jaRAN. Yang artinya benda sebesar anak kutu menjadi sebesar kuda. Ini untuk mengibaratkan apapun yang masuk koran bakal jadi serupa ungkapan itu. Hal sepele menjadi seolah penting. Bahwa bila sudah masuk koran, sesuatu itu sudah tidak sesuai dengan kenyataannya.

Dalam ilmu Fisika dan turunannya, realitas itu semu. Rumus-rumus Fisika di bumi bisa jadi berbeda di alam semesta lain. Karena banyak hal yang dapat mempengaruhinya. Semisal besaran gravitasi dan sebagainya.

Jadi pada dasarnya realitas, kenyataan itu berbeda-beda. Atau malah bisa dikatakan tidak ada. Seperti melihat cahaya sebuah bintang di langit malam, boleh jadi bintang itu sendiri sudah mati, sudah tidak ada ribuan tahun yang lalu. Yang kita lihat adalah cahayanya yang masih terus merambat mengarungi alam semesta lalu tertangkap mata. Tahukah bila cahaya matahari yang kita tangkap itu adalah cahaya yang dipancarkannya 8 menit yang lalu. Jadi, bila kita melihat matahari sekarang, sesungguhnya kita melihat 8 menit yang lalu. Matahari masa lalu.

Dalam dunia masa kini, manusia disibukkan oleh realitas dunia maya yang diwakili oleh internet. Dulu dunia maya yang kita kenal adalah dunia awang-awang, imajinasi, fantasi dan sejenisnya. Tapi kini dunia itu hadir di depan mata dan genggaman. Internet adalah sebuah media di mana kita bisa melihat, mendengar sesuatu itu jadi sangat dekat dan akrab. Ibarat sebuah jendela dimana ketika kita bisa melihat secara langsung ke dunia di luar diri kita.

Kembali ke soal realitas. Apakah internet juga menyampaikan realitas ?

Kalau KORAN itu singkatan dari : barang sak KOR dadi sak jaRan, INTERNET singkatan dari kalimat apa ya ?
1701

KELUARGA BESAR ITU….

 

Berkumpul dengan keluarga besar adalah salah satu ciri khas masyarakat Indonesia. Terutama saat hari-hari besar keagamaan. Seperti Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Galungan dan sebagainya. Ketika berkumpul itu kau akan bertemu dengan keluarga-keluarga lain. Tidak hanya keluarga sekandung tapi bisa jadi dengan sepupu, saudara kandung ayah, saudara kandung ibu kita, anak-anak mereka dan lain-lain. Kau akan bertemu dengan keluarga lain yang bukan hanya tak pernah kau ajak bicara, tapi boleh jadi tak kau kenal sama sekali. Atau malah yang lucu, ketika orang yang kau kenal entah di mana ternyata masih ada hubungan keluarga denganmu.

Ketika berkumpul itu, saat makan bersama, bercengkarama, saling bercerita bagi kebanyakan orang adalah saat yang menyenangkan. Di mana kau bisa berbagi cerita, saudaramu juga berbagi cerita serta pengalamannya.

Dalam sekumpulan keluarga besar boleh jadi ada juga ketidaknyamanan satu sama lain, entah dengan keluarga mana. Bisa karena sebuah sebuah peristiwa masa lalu atau memang karakter keluarga lain itu yang tak saling cocok. Namun karena memang satu keluarga besar mau dikata apa. Itulah takdirmu. Tapi pada dasarnya setiap keluarga pasti berbeda karakter. Setiap keluarga beda pandangan. Bahkan mungkin saja ada yang beda agama, ideologi, kepercayaan atau bahkan ras.

Kalau sudah begitu sebagai sebuah keluarga tentu kau, atau siapapun tak akan membuat kegaduhan atau ketidaknyamanan dalam acara bersama itu. Setiap orang akan berusaha menjaga omongan agar tak melukai hati satu sama lain. Tapi karakter setiap orang memang berbeda. Meski dijaga, ada saja satu dua kata terlepas sehingga menyinggung yang lain. Atau bahkan ada saja yang terus nyerocos seperti kenalpot motor tanpa saringan.

Tapi mau tak mau kau sudah ada dalam satu keluarga. Di mana kau harus memaafkan, menjaga perasaan, kehormatan keluargamu, keluarga besarmu. Dengan tidak menyakiti satu sama lain. Dengan tak melukai perasaan satu sama lain. Karena sudah banyak keluarga berantakan akibat omongan. Banyak keluarga saling membenci bahkan bertengkar hingga saling membunuh. Lalu kemana rasa kemanusiaan dan persaudaraanmu ?

 

Oya, boleh tidak kalau keluarga besar itu aku namai dengan I N D O N E S I A ?

 

 

 

BOGOR 1612

 

MENDAKI GUNUNG, MENDAKI KESUKSESAN

 

Hidup mencapai kesuksesan itu serupa mendaki gunung. Kau mulanya tergiur pada puncak tinggi di atas awan. Mencapai ranah yang tak semua orang bisa menjangkaunya. Untuk ke sana kau perlu bermacam persiapan. Dari mental, fisik, pengenalan alam dan medan hingga peralatannya. Sejak awal semangat begitu membara karena kesuksesan, puncak gunung tampak di depan mata.

Pejuangan pendakian dimulai dari awal. Bekal harus kau bawa sendiri menapaki jalan setapak. Pertarungan dengan dirimu pun dimulai saat tenaga mulai terkuras dan tersengalnya nafas. Saat itulah semua yang kau rencanakan indah saat awal perjalanan mulai berantakan. Puncak kesuksesan tak tampak lagi di depan mata sementara kau harus meneliti jalur agar tak tersesat. Belum lagi bila kau temui rintangan alam seperti hujan badai yang mendadak datang atau jalur yang mendadak putus di tengah jalan akibat tanah longsor dan sebagainya. Bila kau pendaki pemula, semangat akan cepat runtuh. Karena kau akan berpikir jalan yang tak ada habisnya dan kau semakin asing dengan dunia sekitarmu.

Namun sesungguhnya dari mendaki gunung itu banyak sekali yang kau dapat. Kau akan mengerti akan arti setia kawan. Kau akan mengerti akan kata berbagi. Kau akan mengerti bagaimana menyemangati diri sendiri dan teman perjalanan. Kau akan mengerti bagaimana mengelola dirimu sendiri. Kalau kau peka, sepanjang perjalanan kau akan mendapatkan keindahan yang takkan kau temui bila tak mendaki. Kau akan mensyukuri bahwa tak banyak orang yang dapat menikmati keindahan, pengalaman yang kau alami saat itu.

Puncak, akhirnya, bagi kebanyakan pendaki itu adalah bonus. Bonus di antara kenikmatan-kenikmatan yang kau dapatkan selama perjalanan. Puncak adalah tempat dirimu akan merasa kosong. Karena ketika sampai di sana kau akan merasa semakin kecil di alam semesta ini. Karena Puncak itu adalah hasil perjuangan pendakian-pendakian kecil di dirimu sendiri. Yang telah menemukan keindahan-keindahan selama persiapan dan perjalanan.

Tak mencapai puncak bukan berarti tak sukses. Karena kesuksesan itu adalah berhasilnya menaklukan diri sendiri dan tantangan alam / kehidupan.

 

 

Bogor. 1612

 

EMPAT PULUH ENAM

 

Kata orang hidup itu sebuah perjalanan

Dari satu tempat menuju ke tempat lain

Ya, bagiku juga seperti itu

Dari lupa menuju tidak tahu

 

Usia serupa waktu

Kekal tak berbatas

Yang fana adalah raga

Kelak terurai terbebas

 

Melangkah antara jeri dan takut

Tiada jejak menuju surut

Paradoks perjalanan masa

Dari tiada, ada menuju tiada

 

Menuju…………

 

 

 

1608

GODAAN ITU BERNAMA POPULARITAS

 

Menjadi seniman apapun, tidaklah salah bila mencari popularitas. Karena popularitas itu hampir identik dengan pundi-pundi keuangan atau periuk nasi. Wajar saja mencari penghidupan lewat seni. Tapi seorang seniman biasanya yang paling pertama tidak berangkat dari motivasi itu. Tapi motivasi berkarya untuk menyampaikan hasrat, ide, pandangan akan kehidupan yang sedang berjalan, yang sedang dialaminya, yang ada di depan matanya. Hasrat itu disampaikanlah dengan berbagai media dengan penuh estetika. Seperti tulisan puisi, cerita, novel, atau media kanvas, atau media kayu, logam dan sebagainya.

Kita banyak mengenal seniman terkenal. Mereka yang telah berkarya bertahun-tahun. Bahkan ada yang sepanjang hidupnya. Sepanjang hidupnya ? Ya, sepanjang hidupnya karena seorang seniman seringkali mengangkat pengalaman masa kecilnya. Sepanjang ingatannya. Selain itu karya-karya itu bisa dipastikan sudah melewati pergulatan fisik dan non fisik yang “berdarah-darah”. Karya-karya yang dibangun dari perenungan dan pengalaman hidup. Maka adalah salah bila melihat karya orang yang sudah terkenal tanpa melihat prosesnya. Proses yang telah dia jalan sepanjang hidupnya.

Dalam abad modern ini kelabat dunia nyata dan maya, dunia yang kian samar batasnya, begitu cepat dan menyilaukan.. Setiap orang bisa mencitrakan dirinya sedemikian rupa di dunia maya demi meraih kesuksesan di dunia nyata. Sehingga siapapun dapat melihat menyaksikan bintang-bintang seniman yang terbit, menyala terang. Ada yang usia nyalanya sebentar ada yang cukup panjang.

Dengan begitu mudahnya melihat kesuksesan orang lain, bagi setiap orang ini adalah kesempatan baik untuk meningkatkan kualitas dirinya. Karena mereka bisa mengenal dan belajar langsung dengan idolanya atau sekedar terinspirasi.

Namun ada orang yang ( dengan cerdik ? ) melihat popularitas dan kesuksesan bisa diraih dengan jalan pintas dan cepat. Maka dia akan menghalalkan segala cara untuk mendongkrak popularitas itu. Dia tak melihat lagi bahwa kesuksesan orang lain itu dikerjakan berdasarkan pengalaman dan perenungan. Yang dia lihat hanyalah dirinya sendiri. Egonya. Bahwa dengan popularitas yang meroket dia bisa meraih banyak keuntungan secepatnya. Salah satu yang dia tempuh adalah plagiasi. Kenapa plagiasi ? Karena inilah jaman setiap orang dapat mengunggah karyanya dengan mudah dan langsung dipertontonkan ke dunia maya. Maka dengan mudah karya-karya itu dicari dan dicomotnya.

Tindakan ini sangat menggiurkan bagi semua orang. Karena dengan mudah dilaksanakan. Mengibaratkan operasional komputer, dengan hanya satu dua klik, whola ! Jadilah karyamu.

Namun kembali ke awal. Menjadi seniman apapun, motivasi utamanya adalah mengungkapkan kegelisahan hatinya, perasaannya, pikirannya dalam memandang hidup, pengalaman perjalanan bahkan gocangan batin. Bukan melulu soal popularitas. Maka bagi siapapun yang berniat menjadi seniman, maka mengasah rasa, mengasah pikir, mengasah batin adalah sebuah proses yang harus dilalui. Karena itu akan menjadi karakter yang dibawa hingga ke liang lahat. Bukan dengan satu dua klik lalu, whola ! Jadilah karyamu.

 

Bogor 07/0816